7 Gologan Ulama di Dunia

Ada 7 Golongan Ulama di Dunia ini
1. Ulama resmi (ada jabatan)
2. Ulama tidak resmi
3. Ulama lahir
4. Ulama dunia (suk)
5. Ulama Akhirat
6. Ulama Mujaddid
7. Ulama Waliyullah

4 Ulama Jahat (Su’)

D. ULAMA SUK (ULAMA DUNIA)

Ulama suk artinya ulama jahat (suk itu istilah Arab berarti ‘jahat’). Kita pun tidak sangka adanya ulama-ulama yang jahat, kalau bukan Rasulullah sendiri yang memberitahu dengan sabdanya:

“Selain dari dajjal ada yang paling kutakut menimpa kamu. Maka ditanya: siapakah wahai Rasulullah? Jawab baginda: iaitu ulama suk.”

Sabdanya lagi:

“Bila ulama tergelincir, tergelincirlah alam dengan sebab gelincirnya itu.”

Sehubungan dengan ini, saya teringat kata-kata dalam sebuah kitab:

“Kalau ulama cinta dunia tentang yang harus, orang awam akan buat yang makruh. Bila ulama buat perkara makruh, orang awam akan buat yang haram. Kalau ulama buat dosa kecil, orang awam buat dosa besar. Kalau ulama buat dosa besar, orang awam jatuh kepada kekafiran!”

Lojiknya hal-hal demikian boleh berkait-kait ialah karena seorang yang ada ilmu disegani, diyakini dan diikuti orang. Cakap dan sikapnya boleh mempengaruhi masyarakat. Orang ramai ingat semuanya betul, mereka tak pandai menolaknya. Maka kiranya baik caranya, baiklah jadinya masyarakat. Tetapi andai sebaliknya, yakni ulama sudah jahat, maka jahanamlah masyarakat.

Satu lagi faktor terjadi demikian ialah karena bila orang alim tidak mengajar, berdakwah dan mendidik, terbiarlah rakyat dalam kejahilan dan maksiat. Oleh karena itu Rasulullah sudah berpesan agar ditakuti ulama suk lebih dari takutkan singa. Hendaklah lari sejauh-jauhnya dari mereka. Kita perlu ambil perhatian serius tentang hal ini karena berdasarkan Hadis, ulama suk ini ramai di akhir zaman, yakni di zaman kita ini. Sabda Rasulullah:

“Akan terjadi di akhir zaman, ahli ibadahnya jahil-jahil, sedangkan alim ulamanya fasiq-fasiq.”

Mari kita kaji ciri-ciri ulama suk ini:

1. Mereka keluar dari sekolah dan jurusan tinggi pengajian Islam, yakni tempat keluarnya ulama. Lalu mereka pun dipanggil ulama. Padahal mereka sebenarnya tidak layak dipanggil ulama karena ilmunya (kalaupun dia lulus) terlalu sempit dan sedikit. Ilmu yang dipelajari di sekolah disukat dan dibataskan.

2. Ibadah mereka tiada bezanya dengan ibadah orang awam. Yakni setakat mempertahankan Rukun Islam yang lima sahaja dan sedikit saja buat perkara-perkara sunat. Itu pun tidak dihiasi dengan roh ibadah. Cuma dijaga rukun dan syarat-syarat lahir sahaja. Ilmu hati, persoalan kejiwaan, sifat mahmudah dan mujahadah dengan nafsu tidak dipedulikan. Bahkan dianggap menyusahkan dan buang masa. Begitu juga dengan wirid zikir, sudah tidak dibuat lagi. Walhal Islam sangat menganjurkannya.

3. Pakaiannya, cara hidupnya dalam hal rumahtangga, pergaulan, ekonomi, pendidikan dan lain-lain tidak dijalankan mengikut cara Islam. Budaya kuning, pendidikan sekular, ekonomi riba dan lain-lain perkara haram dilaksanakan dalam hidupnya tanpa malu-malu. Pendek kata dalam semua hal, mereka tidak memiliki ciri-ciri ulama. Mereka sendiri pun malu nak menonjolkan identiti ulama. Kalau orang tak cerita, kita pun tidak sangka yang dia itu ulama.

4. Kalau bercakap tentang cara hidup Islam dengannya, dia menolak dengan alasan “Orang akan lari dari kita. Belum masanya,” atau katanya, ” itu semua hal remeh-temeh, kita ingin perkara yang besar-besar !” Walhal sebenarnya mereka ini tidak cinta dengan perjuangan Islam karena cinta dunianya sangat tebal. Hingga karena kepentingan dunia, mereka akan korbankan urusan agama terutamanya urusan-urusan yang merugikan kepentingan mereka.

5. Dunia yang sangat diburu ialah harta, pangkat, pengaruh, nama, kuasa dan lain-lain lagi. Ilmu agamanya dialatkan untuk dapatkan ini semua. Jadi kita akan lihat kehidupan mereka yang mewah dan membazir, sibuk mencari publisiti di mana ada peluang, tekan-menekan untuk kenaikan pangkat dan gaji. Setiap langkahnya minta dibayar dengan elaun, mileage, lodging dan lain-lain lagi. Program keagamaan yang dianjurkan bertawar-menawar harganya. Perjuangan untuk naikkan gaji adalah usaha-usaha popular ulama ini. Dan untuk tuntut wang mileage, mereka sendiri yang tulis butir-butirnya dalam borang supaya jangan setiausaha atau keraninya tersilap nombor atau tahu rahsia. Begitulah cinta dunianya; pengorbanan untuk Akhirat tidak masuk senarai mereka. Walaupun duit banyak tetapi mereka tidak akan berkorban lagi untuk agama ALLAH.

6. Untuk dapatkan apa yang dicintai itu, mereka tidak fikir halal haram lagi. Mereka tidak fikir riba, dedah aurat, bergaul bebas, bohong, tipu, hutang, mungkir janji, rasuah, menganiaya, menzalim. Kalau program mengajar agama, berjuang dan menasihat secara langsung atau tidak, boleh merugikan dunia mereka, maka akan ditinggalkan semua itu. Mereka sudah tidak berjuang lagi. Kalaupun berjuang, dicari yang ada untung dunia. Tidak kira dalam apa-apa isme pun. Merekalah yang kuat menentang purdah, tutup aurat, pemakaian jubah sorban, banyak sembahyang, berzikir dan ketegasan beragama.

7. Kalau ada kuasa, karena takut hilang kuasa sanggup memfitnah, menghasut, menuduh dan menganiaya. Ramai ulama sufi terpaksa meringkuk dalam penjara akibat perbuatan mereka. Dalam sejarah pemerintahan Bani Umaiyah, sewaktu Hajjaj bin Yusuf (seorang ulama) jadi gubernur di Baghdad, ramai ulama dari kalangan Sahabat dan tabiin yang tegas dengan hukum ALLAH dipenggal kepalanya. Ramai juga yang dipenjarakan. Syeikh Junaid Al Baghdadi, murid kanan beliau Syeikh Nuri dan pengikut-pengikutnya pernah dipanggil oleh khalifah ke istana untuk disoal atas tuduhan seorang kadhi besar (Kadhi Qudhat). Syeikh Abu Yazid Al Bustami pernah dihalau dari Baghdad selama tujuh tahun karena fitnah yang dilemparkan kepadanya oleh ulama rasmi.

8. Mereka dekat dengan raja dan pemerintah. Demi menjaga kepentingan dan menyorok kelemahannya, telah dibesar-besarkan kesalahan rakyat jelata, dengan menuduh bid’ah dan sesat. Hinggakan raja dan pemerintah menjadi keliru dan akhirnya turut menekan rakyat yang tidak berdosa. Tetapi kalau orang besar buat maksiat, ditolong sorok dan ditutup-tutupnya. Bahkan diiyakannya.

9. Di zaman penjajah mereka tidak segan-segan membantu dan mendukung penjajah. Maka mereka turut terlibat menentang ulama yang melawan penjajah. Itulah ‘jihad’ mereka. Amar makruf nahi mungkar yang sebenarnya tidak mereka buat lagi.

10. Anak-anak mereka biasanya tidak lagi dihantar ke sekolah agama. Mereka tidak mau lagi zuriat/keturunannya masuk ke bidang yang susah hendak cari dunia. Mereka dulu pun disebabkan tersilap, dan mereka menyesal mengapa ibu bapa hantar ke sekolah agama. Kalau ada pun anak yang dihantar ke sekolah agama, itu karena tidak ada jalan lain.

11. Ulama-ulama suk ini kalau mereka berbual-bual sesama sendiri adalah tentang kenaikan gaji, kenaikan pangkat, jawatan, cerita tentang mileage, cerita mengenai dunia; jarang menyebut tentang Akhirat, tentang perjuangan Islam, kisah umat sudah rosak dan lain-lain lagi.

12. karena sikap mereka ini, membolehkan pemerintah yang zalim berkuasa lebih lama, di samping rakyat pun turut rosak. Maka mereka ini akan masuk Neraka lebih dulu daripada orang kafir. Dalam setengah kitab dikatakan, “500 tahun lebih dulu masuk Neraka daripada penyembah berhala.”

Berikut ialah Hadis-Hadis tentang ulama suk:

1. Sabda Rasulullah SAW:

“Sejahat-jahat manusia ialah ulama suk.”

2. Rasulullah menceritakan nasib ulama suk di Hari Qiamat:

Aku dengar Nabi SAW bersabda: “Seorang ulama dibawa di Hari Qiamat lalu dicampakkan ke dalam Neraka, maka terkeluarlah isi perutnya, lalu dia beredar mengelilinginya sepertimana himar mengelilingi pengisar tepung. Penghuni Neraka yang lain mengelilinginya seraya bertanya: Apa gerangan kamu begini? Dia menjawab: Aku menyuruh kebaikan tetapi aku tidak buat dan aku melarang perbuatan jahat tetapi aku melakukannya.” (Riwayat Al Bukhari dan Muslim)

3. Rasulullah bersabda mengenai kerosakan masyarakat karena ulama suk:

“Kecelakaan pada umatku adalah karena ulama suk.” (Riwayat Al Hakim)

4. Sabdanya lagi :

“Rosak di kalangan umatku ialah ulama yang zalim dan si abid yang jahil. Yang menjadi paling rosak ialah kejahatan ulama (suk) dan yang sebaik-baiknya pula ialah karena kebaikan ulama (Akhirat).”(Riwayat Adarimi)

5. Sabda Nabi SAW mengenai sifat ulama suk:

“Ulama yang jahat ialah mereka yang datang menyembah (bekerja dengan) pemerintah, dan pemerintah yang baik pula ialah yang datang merujuk kepada ulama.”(Riwayat Ibnu Majah)

About the Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *